ANAK KAMPRET

Baru kali ini saya memberi judul di tulisan saya ini. Ya biasanya juga memberi judul, tapi setelah tulisannya selesai. Kali ini tidak, saya beri judul terlebih dahulu. Sebuah judul yang terngiang-ngiang sedari pagi tadi, dimana awal tulisan ini akan bercerita.

Ahaha. Ayo kita mulai.

Pagi ini, tanpa sengaja saya mendengar seorang tetangga saya berteriak ke tetangga saya yang lainnya. Jadi, sebenarnya ini pembicaraan antar tetangga yang sejatinya saya tidak terlibat dalam pembicaraan itu sama sekali. Ya ya ya. Sekali lagi sebuah alur pemikiran terbangun di dalam otak saya yang sederhana. Ya sebuah alur pikir yang sederhana. Oya, kenapa diawal saya sebut berteriak, karena mereka berbicara keras sekali, seperti berteriak-teriak. Aaahh.

Nah, gerangan apakah yang diteriakkan? Cukup simpel. Saya coba ulang, jadinya akan seperti ini :

Tetangga 1 : wah, mbahnya repot deh, cucunya nambah lagi, gak bisa istirahat.

Tetangga 2 : mesam-mesem

Ya itu cuplikannya.

Simpel bukan?

Dari situ apa yang bisa terpikir sehingga muncul judul ”anak kampret” ditulisan ini?

Oya, btw, kampret itu merupakan nama lain kalong atau kelelawar, tapi kampret disini tidak ada sangkut pautnya dengan binatang itu. Kampret disini ya kampret yang itu. Ahahaha

Sebenarnya, apa sie yang membuat saya begitu tertarik dengan sepotong pembicaraan itu?. Kalau diperhatikan memang seperti percapakan biasa-biasa saja. Tak lebih. Namun, kalau dilihat lebih jauh lagi, dengan melibatkan kebiasaan masyarakat pada umumnya dan nilai yang seharusnya terjadi namun dilupakan, ada banyak hal yang bisa kita tarik dari peristiwa itu.

Kita mulai dari mana ya? Ah iya dari sini saja. Dalam kebiasaan masyarakat sekarang yang bernafaskan kapitalisme dan mengandung perilaku konsumtif, setiap anak manusia cenderung berupaya untuk terus memenuhi kebutuhannya yang tidak akan pernah ada habisnya. Dengan cara apa? Mencari uang, tentunya dengan berkerja dan bekerja dan bekerja dan bekerja. Adakah yang mereka lupa? -Dalam hal ini golongan muda yang masih kuat dan mampu- tidak. Tidak ada sedikit pun yang mereka lupa terkait diri mereka sendiri. Jadi, kalau boleh dibilang pemenuhan kebutuhan diri sendiri sudah pasti merupakan keharusan. Ahahaha.

Salahkah seperti itu?tidak tidak saya tidak berniat untuk menyalahkan siapapun. Saya tidak berniat untuk mendiskriditkan siapapun. Lalu apa kaitannya dengan sesuatu yang kita bahas disini?

Begini, seperti disebutkan tadi, untuk pemenuhan kebutuhan diri sendiri tentu harus terpenuhi, salah satunya adalah bereproduksi. Ya manusia pasti tidak lepas dari keinginan itu. Dari situlah sesuatu yang “menarik’ muncul. Apa hayo? Bisa tebak?

Ahahahaha

Dari kegiatan mereka yang ikut serta dalam kekuasaan Tuhan dalam penciptaan seorang manusia dibumi tentunya akan bermunculan apa yang disebut sebagai buah hati mereka a.k.a anak mereka. Tapi dengan pola hidup yang bernafaskan kapitalisme dan bersendikan perilaku konsumtif seperti sekarang ini. Kemunculan seorang atau dua orang atau tiga orang atau berapapun orang dari mereka akan lebih memaksa mereka untuk terus menerus menambah penghasilan yang didapat. Selesai? Tidak. Dengan kegetolannya mencari lebih dari sesuap nasi tersebutlah, sesuatu itu muncul. Acap kali karena kesibukannya mereka tidak punya waktu untuk mengurusi buah hati mereka. Lalu dikemanakankah buah hati mereka itu? Jika dalam tatanan masyarakat yang sekarang, acap kali lagi anak tersebut diasuh oleh nenek atau kakeknya.

Terlihat seperti menyenangkan bukan? Seorang nenek membawa cucunya berkeliling kompleks pada sore hari yang cerah?

Menyenangkan? Coba dilihat ulang? Perhatikan baik-baik.

Yang saya dapat adalah seperti ini. Okay saya ulangi. Yang saya dapat lihat. Yang dapat saya lihat. Yang dapat saya lihat. Seperti ini yang terjadi, meskipun terlihat itu sebagai sebuah kewajaran dan jamak dilakukan oleh banyak orang ada sesuatu yang saya tidak bisa menerimanya. Ya mungkin masalahnya disaya. Tapi entahlah. Saya bilang disini saya tidak berniat menyalahkan orang ataupun sebaliknya. Entah.

Pernahkah terbayang seperti ini, nenek tersebut pastinya sudah tua. Sampai sejauh ini saya tidak pernah mendengar ada nenek yang berusia 25 tahun di Indonesia. Terkadang untuk mengurus dirinya sendiri yang sudah dihampiri penyakit dia sudah berat belum lagi harus mengurus cucu kesayangannya. Lalu jangan lupa, meskipun dia seorang nenek, dia masih memliki status sebagai istri, istrinya kakek. Hehe. Kewajiban untuk melayani seorang suami tentu tidak akan luntur karena dia sudah memiliki cucu. Ya mungkin kewajiban tidak lebih dari menyiapkan pakaian kakek, menyiapkan makan, membawakan air minum,dll tapi saya pikir untuk urusan ranjang sudah berhenti pastinya. Hmmmph tak tau pasti. Ahahaha. Sampai disini berarti si nenek mempunyai beban berat yaitu dirinya sendiri, suaminya dan cucunya. Oooh coba dibayangkan. Berat bukan?

Kalau suaminya sudah meninggal tentu bebannya akan berkurang bukan? Hahaha. Tidak.Sama sekali tidak. Justu makin menambah berat beban pikirannya. Dia akan hidup sendiri dalam kesendirian. Ditinggal mati oleh seseorang yang pernah menjadi bagian hidupnya. Seseorang yang menjaga dan melindunginya. Seseorang dimana dia bisa menangis dan tertawa sepuasnya. Hidup dalam kesendirian seperti itu sungguh seperti menghitung hari kematian saja.

Kemudian kita lihat pada anak si nenek itu. Ya anak yang menghasilkan cucu untuk neneknya. Anak yang memberikannya “pekerjaan yang manis”. Ahaha. Sungguh penyematan julukan anak kampret pada mereka merupakan suatu keharusan. Kenapa? Karena mereka hanya mau ”buatnya” aja. Tanpa mau mengurusnya. Ya mengurusnya, bukan hanya memberikan dia uang, makanan, pendidikan. Mengurus dalam arti sesungguhnya, mengurus yang sebenar-benarnya mengurus. Tidak seperti mengurus dalam artinya yang selama ini dilakukan oleh banyak orang.

Entah berapa orang anak muda yang tersesat –menurut saya ini lho- mengikuti kebanyakan orang, bahwa menjadi orang tua yang baik adalah orang tua yang selalu menyediakan segala sesuatu yang baik. Aaahh. Kenapa harus menyediakan sih. Menyediakan itu sama artinya dengan menyerahkan. Bukan memberi. Apakah seorang anak akan tumbuh dengan baik jika terus menerus disediakan yang terbaik? Tidak semudah itu. Yang diperlukan adalah memberi. Memberi kasih sayang tanpa wujud materi. Ya tanpa wujud materi.

Mengurus bukan hanya menyediakan. Mengurus dengan baik tidak identik dengan menyediakan yang terbaik. Aaahhh

.....

....

....

Oya, kenapa saya mengambil sosok nenek disini. Karena memang yang sering mendapat ”pekerjaan yang manis” itu adalah nenek. Bukan kakek.

.....

.....

.....

Aaahhh saya jadi berpikir ulang sampai disini. Mungkin anak-anak kampret itu berlaku seperti itu karena sedari kecil ditanamkan pengertian seperti itu. Aaahhh. Lalu buat apa sekolah tinggi-tinggi jika persoalan sederhana seperti ini tidak bisa dicarikan jalan keluar yang bijak?

Ahahahha.

Oiya. Sekolah tinggi untuk mencari uang banyak. Saya lupa.

Juli/14/2011

Saat badan saya menolak untuk tidur lebih awal

Teriakan saya

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!

Aaaaaaaaaaa!!!

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!

Aaaaaaaaaa!!!

Aaaaaaaaaaaaaaaaa!!!

Aaaaaaaaaaaa!!!

Aaaaaa!!!

Aaaaaaaaaaaaa!!!

Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!

Aaaaaaaaaaaaaa!!!

Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!

Aaaaaa!!!

Aaaaaaaaaaaaaaaaa!!!

Aaaaaaaaaaaaaaa!!!

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!

……..

……..

……..

2:02 PM

11/07/11

Banci, Bencong, Waria

Pukul 01:24 AM.

Baru saja saya selesai makan.

Dan langsung berhadapan dengan laptop lagi, uhui.

Apa yang akan saya sentil kali ini?

Coba tebak?

BENCONG

Ya betul manusia setegah pria dan setengah wanita.

Ahaha. Entah kenapa pikiran saya usil ingin membicarakan mereka. Haha.

Saya tidak ingin membahas apakah mereka salah atau benar, karena sesuai dengan keyakinan saya kebenaran sejati adalah milik Tuhan. Saya sedikitpun tidak pantas menyalahkan atau membenarkan perilaku atau tindakan seseorang, apalagi menyangkut pandangan hidupnya.

Lalu apa yang akan kita bicarakan? Oke kita mulai. Saya ingin coba men-strata-kan panggilan untuk masing-masing level. Ahaha. Ide gila ini muncul dengan begitu saja. Ahahaha.

Dari sekian banyak aspek yang bisa jadi bahan pertimbangan, yang paling mudah tentunya tampilan fisik keseharian. Karena ini paling mudah kita amati, kita gunakan saja ini untuk memberi tingkatan ya?hehe

Pertama, signnya, yak ini bisa kita lihat dari seorang pria dengan tampilan pria tulen namun ada beberapa gerakan tubuhnya yang membahasakan sifat feminin alias kemayu. Bisa dilihat dari cara jalan yang 1 line macam model, atau jentikan tangannya.ahaha. untuk yang satu ini bagaimana kalau kita sebut PRIA MELAMBAI. Siap?yak. ahahaha.

Kedua, symptomnya sudah muncul, dapat kita lihat dari pria dengan tingkatan yang awal tadi tapi kemudian ditambah dengan make up dan sedikit gaya-gaya centil khas bencong. Ya bolehlah ditambah dengan aksesoris kewanitaan yang sedikit-sedikit menempel disana-sini. Untuk tahap ini bisa saja kita namai tingkatannya BANCI.

Ketiga, baru akut ni, ketika si pria itu sudah berganti kostum dengan pakaian wanita tentunya dengan segala pernak-pernik perlengkapannya yang biasa dipakai wanita bersolek. Namun untuk tingkatan ini, yang bersangkutan hanya berubah pada saat-saat tertentu. Tidak seluruh waktunya selama sehari penuh dalam kondisi seperti itu. Untuk tingkatan seperti ini, bagaimana kalau kita sematkan titel BENCONG. Sepakat ya?

Keempat, sudah kronik, sulit disembuhkan, haha, bagian ini adalah bagian dimana si pria sudah total merubah penampilannya dalam bentuk wanita. Ya SEMUANYA. Tanpa terkecuali. Perubahan tubuh yang ekstrim dan ekstrim. Dalam seharisemalam hingga bertahun-tahun penampilan akan tetap pada tampilan barunya sebagai wanita. Untuk tingkatan yang ini sebutannya yang cocok agaknya adalah WARIA. Dan ini sudah tingkatan tertinggi.

Tidak tidak, tulisan saya ini tidak mendiskritikan siapapun yang memilih jalan hidup seperti itu. Silahkan saja, toh pada akhirnya yang bersangkutan sendiri yang akan berhadapan dengan Tuhan untuk pertanggungjawabannya. Saya hanya melihat dengan mata dan coba memahami dengan hati.

Satu hal yang saya apresiasi dari mereka adalah keberanian mereka. Apa? Coba tebak. Haha. Keberanian menentukan jalan hidup mereka sendiri, menemukan cara mereka sendiri untuk menemui Tuhan, memilih penghidupan mereka sendiri. Keberanian yang sangat sedikit sekali ditemui dimasyarakat sekarang yang terus terkungkung dalam batasan norma-norma masyarakat yang membebat mereka. Saya garisbawahi, keberanian yang dimaksud bukan keberanian untuk merubah takdir mereka, tapi keberanian melawan arus. Sangat-sangat dibutuhkan kekuatan yang maha dahsyat untuk bisa terus bertahan dikaki mereka sendiri tentunya. Sedangkan kebanyakan kita hanya hidup mengikuti arus saja, ketika moral bergeser yang bisa diperbuat hanya diam dan mengiba. Selintas pikiran saya mengingat kejadian beberapa waktu lalu, dimana ada satu keluarga yang dimusuhi oleh warga tempat tinggalnya karena melaporkan kecurangan dalam ujian anaknya. Yang dimusuhi itu berani melawan arus, sedangkan yang memusuhi itu terbawa arus, dan menghasilkan pola pikir yang ”luar biasanya”.

Kembali ke topik kita soal bencong ini, dari empat tingkatan yang telah sama-sama kita bagi, hehe, tidak semuanya itu termasuk dalam kelompok pemberani. Dua tingkat diawal masih dalam status pengecut. Kenapa? Karena mereka tidak punya nyali untuk menunjukan siapa mereka sebenarnya. Mereka malah membiarkan diri mereka sendiri terkungkung oleh masyarakat sekitarnya. Dan hasilnya malah tidak karuan seperti itu. Aaahhh.

Coba lihat apa yang terjadi pada pria yang berubah menjadi wanita lalu menjadi terkenal itu, muncul di tv-tv, membangun pantiasuhan disanasini, menyediakan lembaga pendidikan, kursus, pelatihan. Menurut saya itu jauh lebih mulia, daripada hanya mengurusi soal selangkangan, sedikit-sedikit ribut soal selangkangan, pake bawa-bawa nama Tuhan pula. Apapun dipakai untuk urusan urat.

Sungguh saya tidak membicarakan agama apapun disini, karena kalau bicara agama, ujungnya pasti akan memisahkan salah dan benar, dan seperti yang saya katakan diawal, yang menentukan benar salah itu sejatinya milik Tuhan.

Saya tidak melarang, dan juga tidak mendukung. Jalan terbaik menjalani hidup adalah dengan mengenali diri sendiri bukan? Ya pada akhirnya kan ada frase seperti ini dari saya ”Yang berbuat, Yang bertanggungjawab”

Hmmph. Pukul 01:56. mata saya mengantuk tapi tangan saya tidak letih. Ahahaha. Mengenai pembagian tingkatan diatas, itu hanya pemikiran saya, ya mungkin bisa dijadikan referensi untuk mengetahui siapa teman-teman anda, ataua bahkan anda sendiri.

Ahahaha.

Pukul 1:58

Disave di laptop mungil

PSK

Kfjahkjfh hrkahr uyf ausr

Ada yang mengerti apa arti tulisan diatas?
Coba diterka-terka..
Coba dikulik-kulk..
Ah coba disandikan..itu sandi mungkin.
Dapat? Sudah mengerti artinya?

Aaahh saya juga tidak mengerti sebenarnya. Hahaha. Sama tidak mengertinya dengan apa yang saya pikirkan saat ini. Haha. Mungkin saya gila. Mungkin. Tidak ada orang gila yang tau dirinya gila. Tapi apa orang yang mengaku waras itu betul-betul waras? Kalau memang waras buat apa menyakinkan orang kalau dia sendiri waras. Aaahhh ini pertanyaan rumit kawan, sulit menjawabnya. Hahahaha. Silahkan anda sendiri yang menetukan siapa yang gila antara kita. SAYA atau ANDA.

Sesaat lalu saya kembali ter-ngiang dengan masa magang saya dulu. Magang dari kampus sebagai salah satu tuntutan menyelesaikan studi saya. Saya dari depok tapi magang di bogor. Perjalanan yang cukup menyenangkan tapi juga makin lama makin membosankan. Perjalanan dari kota ke kota, walaupun dekat, menggunakan motor lumayan melelahkan punggung saya. Cape? Ya tentu, tapi tetap semangat 

Tempat magang ini bekerja pada waktu malam, tuntutan masyarakat katanya. Oya sebelum berpikir lebih jauh, tempat magang saya itu adalah tempat pemotongan hewan untuk konsumsi, jadi wajar malam bekerjanya karena masyarakat inginnya daging segar baru potong pada pagi hari di pasar.Karena bekerjanya malam hari, sudah tentu saya juga ikut kegiatan di malam hari bukan. Yaiyalah. Haha. Ini bagian yang menarik. Haha.

Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 8 malam,n perjalanan dimalam hari biasanya sama saja dengan perjalanan siang hari. Bukan karena jalannnya macet, tapi karena sebagian besarnya jalan menuju kesana belum dipasangi lampu, sehingga kebanyakan gelap dijalan-jalan itu. Lagipula di kegelapan jalan itu banyak yang berseliweran dijalanan, karenanya saya makin hati-hati pas dijalan 

Oke, sampai tempat magang, biasanya saya mengikuti proses pemotongan hewan itu, dari 1, 2, 3 hingga bosan melihat hewan-hewan itu merengang nyawa. Dari sesuatu yang dapat bernafas, bergerak, hidup, dalam 45 menit berubah menjadi potongan-potongan daging yang terbagi dalam 4 bagian besar dan sudah dikulit bersih, tinggal dijual. Hmmph, apa hewan-hewan itu bisa berpikir? Apa yang kira-kira mereka pikirkan ya? Hidup hanya untuk dikorbankan? Menjadi martir? Martir? Martir? Ah apa iya?

Yak stop sampai disitu soal potong memotongnya. Sekitar pukul 1 biasanya saya pulang. Ya perjalanan yang sangat dingin. Angin malam itu seperti menusuk-nusuk hingga ke tulang. Ah mungkin enak kalau didalam mobil, tapi sekarang saya di atas motor. Haha.

Kemudian saya memasuki bagian yang menarik, lumayan jauh dari tempat magang saya itu, dijalanan lurus yang lumayan gelap. Ada beberapa gerombol orang, wanita tepatnya. Ya bergerombol-gerombol di sepanjang jalan, tidak saling berdekatan, tapi dapat saling melihat satu sama lainnya. Hmmph, ditambah lagi mereka seperti tidak merasakan dinginnya malam, terbukti dari pakaiannya yang minim-minim. Sama seperti anak-anak gahul masa kini. Hahaha.
Sejurus kemudian saya melihat adegan yang menarik, wanita-wanita itu melambai pada pengendara motor maupun mobil yang lewat didepannya. Aaiihh saya langsung dapat menerka siapa mereka. Btw, saya juga tidak luput dari lambaian tangan mereka . Tapi saya tetap lanjut jalan terus. Hehe. Maaf mengecewakan anda yang membaca .

Sejenak saya berpikir, mereka sedang mencari uang. Mencari penghidupan. Aaaih tapi saya sama sekali tidak berani mengatakan mereka sepenuhnya salah. Mereka begitu juga karena keadaan yang memaksa. Ada perasaan iba pada mereka yang tersemat di hati saya, mereka pasti dicacimaki dan disebut-sebut bakal masuk neraka oleh orang-orang alim yang lewat dijalan itu.

Pikir saya terus mengelana lagi, aih aih, mengelana. Sebenernya apa yang membuat mereka seperti itu? Sepenuhnya salah merekakah? Aih aih persoalan ini bukan pada siapa yang salah atau benar sepertinya.

Saya teringat dengan sebuah tulisan yang mengatakan pembongkaran lokasisasi macam kramattunggak itu sebenarnya bisa dibilang langkah bodoh, sangat bodoh. Kalau saya pikir-pikir, saya setuju dengan ungkapan itu. Betapa tidak dengan dibongkarnya tempat-tempat lokalisasi macam itu, harapannya semula adalah tidak adanya lagi psk-psk atau semacamnya, tapi yang terjadi malah bermunculan lokalisasi-lokalisasi yang terselubung dan makin banyak yang ikut serta didalamnya. Apa yang dilakukan oleh seorang gubernur pada bertahun-tahun yang lalu merupakan langkah yang sangat berani, tidak seperti sekarang, pemimpin-pemimpinnya pengecut semua.

Ya saya mungkin hanya tau dari literatur saja, tapi itu sudah lebih dari cukup. Ketika ada tempat-tempat seperti itu penyebaran penyakit macam hiv/aids atau penyakit kelamin sejenisnya dapat ditekan sedemikian rupa, menghidupi banyak orang karena disana bukan cuma melulu soal kepuasan urat, tapi ada tukang siomay yang menjajakan siomaynya disana, tukang mainan yang menjajakan mainan pada anak-anak kecil yang tinggal disana, bahkan ada kursus-kursus dan pelatihan pula dari dinas sosial untuk para psk. Haah. Sudah semikian baiknya tapi malah dibubarkan.

Apa yang terjadi sekarang, disana dibangun pusat keagaaman. Disangkanya urusan tarik urat seperti itu dapat diselesaikan seperti orang berak sama pemimpin waktu itu. Setelah dikeluarkan, selesai semua. Tidak segampang itu, mbah. Selain malah bermunculan tempat-tempat prostitusi terselubung di seantero kota, penyebaran penyakit makin menjadi-jadi. Nah, anggaran yang seharusnya untuk pembangunan sudah habis untuk menyediakan obat-obatan untuk menyelesaikan penyakit yang mampir berurutan itu. Lagipula dengan tidak adanya tempat seperti itu, urusan ranjang goyang itu juga sama saja bahkan makin meningkat, aah lalu apa gunanya pusat keagamaan itu? Apa kerjanya orang-orang yang mengaku wakil Tuhan dibumi? Secara umum dapat saja kita sebut mereka – wakil Tuhan di bumi saat ini- telah gagal. Ah kita belum bicara pada aspek ekonomi, tapi rasanya tak perlu. Secara kasat mata dapat dilihat, keuntungan ekonomi yang didatangkan dari tempat itu DULU jauh lebih besar daripada SEKARANG. Dan itu berguna untuk pembangunan yang akan dinikmati semua orang.

Satu hal yang dipermasalahkan biasanya adalah moral. Akan timbul pertanyaan besar. DIMANA MORALMU SAMPAI HATI MELEGALKAN PERZINAHAN? APA MAU NEGERI INI TENGGELAM GARA-GARA MAKSIAT?

Ahahaha. Pertanyaan pamungkas dan jurus pelindung yang sempurna. Pikir saya. Apa dengan tidak adanya tempat itu perzinahan turun? Apa dengan tidak adanya tempat itu negeri ini tidak mau tenggelam?

Ah betapa hebatnya pemimpin itu pada masanya, dia terang-terangan dengan lantang bicara, itu –moral- urusan saya dengan Tuhan, saya yang bertanggungjawa. Hebat. Mana ada sekarang pemimpin seperti itu. Pemimpin sekarang ini selalu melempar kesalahan antara satu dengan yang lainnya. Haah. Menyebalkan sekali melihat kelakuan mereka seperti itu.

Ayolah coba bantu orang-orang yang kalian anggap sebagai biang kemaksiatan, biang kesialan, pusatnya maksiat untuk kembali ke jalan yang menurut kalian benar. Jangan hanya bilang ini haram itu haram. Ini boleh itu tidak boleh. Keluarkan mereka dari lembah kehinaan -menurut kalian- dengan cara yang bermartabat dan beradab. Jangan kalian hanya terus mengutuki dari jauh sambil memandang jijik. Ayolah tunjukkan nyali kalian.

Ah kalau keadaannya seperti ini, siapa yang pantas menyadang gelar GILA dan WARAS? pelacur gila? wakil tuhan waras? ah apa iya seperti itu? entahlah.

Diakhir tulisan ini, saya jadi teringat sebuah kisah tentang seorang pelacur yang dijanjikan masuk surga karena menolong anjing dengan memberikan air minumnya. Hmmmph. Sejenak saya berpikir. Kalau pelacur dapat masuk surga, apa tidak mungkin seorang yang mengaku wakil Tuhan di bumi saat ini masuk neraka?

Minggu, 10 Juli 2011
Dalam suasana perut mulas yang mereda

IAIN BANDUNG 2004

Berdua


risih kalo diliatin

HotPants

jalan-jalan dikaskus, nemu tulisan seperti ini, dan saya setuju dengan pendapatnya.
ryanzhu penulisnya, dan ini tulisannya:

HotPants, Pakaian ala PELACUR yang Merajalela

langsung aja gan ... Akhir akhir ini ane sering liat tuh cewek cewek abg, remaja, setengah dewasa, sekolahan, kuliahan semua pada pake yang namanya hotpants ... Alias celana kurang bahan ....

Apakah ada hubungannya dengan global warming? Jadi pada pakai pakaian yang serba isis? Buktinya biarpun siang bolong panas menthak-menthak atau juga di (umumnya motor matic kyk mio, vario, beat, spin, dll) , atau tengah malam yang dingin, tetep aja betah pake hotpants. Ini ada screencrooot yang berhasil di jepret, yang ini belum seberapa!!!



menurut ane ini adalah pakaian ala pelacur ... Mereka memang belum tentu pelacur ... Tapi gaya berpakaian mereka meniru gaya berpakaian para pelacur.
>>> fakta dan bukti bisa di lihat di tempat - tempat lokalisasi pekerja sex komersial di daerah kaskuser masing2 kalo ada.

Kalo untuk yang bilang nyaman emang mungkin nyaman ... Tapi kan ada tempatnya sendiri ... Disaat tidur kek ... Di pantai kek ... Di rumah ... Bukannya di jalanan ... Dimall ... Di pinggir jalan .... Ane bukan munafik gan ... Ane cuma berpendapat ... Bukankah dalam sebuah hadist muslim ada yang berbunyi "kaum wanita adalah penduduk terbesar neraka"

inilah salah satu cara bangsa barat merusak generasi bangsa kita baik moral, akhlak dan prilaku kita sabagai bangsa ketimuran.

Berikut hasil pendapat beberapa orang yang ane temui untuk ane mintai pendapat.

Dampak negatifnya :
1. Mendapat penilaian buruk dari orang lain 80 %
2. Membuat kaum adam berpikiran ngeres kecuali maho 75 %
3. Membuat kejahatan pelecehan seksual merajalela 60 %
4. Membuat wanita itu sendiri jadi kurang di hargai 60%
5. Membuat para cowok minilai bahwa cewek yang berani pake hotpant udah g perawan 90%
6. Tambahin sendiri menurut agan agan dan aganwati ...

Dampak positif :
100 % tidak ada nilai positifnya dengan berpakaian seperti ini

kalo di godain, di gangguin, diplototin, di colek marah .... Tapi kok dipake ya tau gitu ??? Ni yang bego yang mana sebenernya ???
kalo pict dibawah ini gak muncul di refresh / tekan f5





coba bayangin ... Kalo cewek ente ... Pake hotpants jalan keluar ... Ke mall kek apa keman ... Ente sih mungkin seneng2 aja gan .... Tapi apa g kasihan ama cewek nya ... Dinilai jelek ma orang lain ... Ente juga kan yang kecipratan .... Masa cewek yang kita cintai kita sayangi pahanya buat arisan mata orang lain .... Trus kalo umpama boncengan naik motor ... Kalo ada yang usil ngelus tuh paha apa gak berabe ???

Gw cuma inget aja dulu ada gencar2nya undang undang pornografi yang melarang ibu menyusui depan umum, pake jarik depan umum (nenek-nenek) khususnya, sekarang hotpant malah jadi trend biasa biasa aja. Ane g munafik gan, ane cowok normal, ini hanya pendapat ane pribadi. So jangan di salah artikan. Niat ts hanya mengingatkan ...


sekian gan pendapat dari ane ... Cuma ngingetin aja buat aganwati2 di sini ... Kalo mau pake pakean model gini pikir 1000 kali dolo ... Ane ga maksut apa apa ... Ane cuma berniat mengingatkan ... Berniat baik semata ... Kalo ada yang g berkenan ane minta maaf gan .... Namanya juga manusia biasa gan ... G luput dari khilaf dan dosa

Bocah Bercinta dengan Pelacur Sifilis

Seorang bocah, James 10 tahun, datang ke rumah bordil. Kepada si Mami Betty, dia berkata,

"Saya ingin memakai pelacur". Betty berkata " Enyah kau dari sini, Kau masih terlalu kecil"

Si James lalu mengeluarkan segepok uang dan menunjukkan kepada si Mami. Dasar mata duitan, Si mami berkata :"Oke lah kalau kau memaksa. Wanita macam apa yang kau inginkan?"

"Saya ingin pelacur yang terkena sifilis " Kata James, "Hah !? Kau ngeledek rupanya. Tidak! aku bersungguh sungguh "

"Baiklah sesukamu saja," sambil menelepon si Susi yang punya sifilis.

Kemudian, setelah selesai "main" si James beranjak pulang, tapi si Mami mencegatnya.

"Sebentar! masuk akal kah kalau kamu kemari mencari wanita, tapi mengapa mencari yang terkena sifilis?"

"Mengapa? Itu berarti saya terkena sifilis khan?"

"O,ya tentu" kata si Mami"

Lalu di rumah saya mengajak pembantu bersetubuh, ia akan kena sifilis khan?"

"Ya"

"Dan si pembantu berhubungan dengan tukang roti, ia juga terjangkit sifilis ,khan?"

"Ya, pasti"

Lalu, jika si tukang roti berkencan dengan Mama, ia akan terkena juga khan ?"

"Oo itu Jelas"

Dan sewaktu Mama berkencan denga Papa, pasti Papa kena juga khan?"

"Dengan sendirinya begitu"

"Kemudian, setelah Papa berhubungan dengan istri tukang kebun, ia tertular sifilis juga khan?"

"Ya, pasti"

Dan ketika si istri tukang kebun berhubungan dengan tukang kebun, pasti si tukang kebun akan kena juga,khan?"

"Tentu saja"

Si bocah berhenti sebentar, lalu menyambung, "DIALAH, TUKANG KEBUN JAHANAM YANG MEMBUNUH KURA - KURA KU !"


ajihyuga
03-07-2011

Patrick

memang seperti itu

Lucu

selalu tergelak ketika lihat wajah senang itu

PSK

Kfjahkjfh hrkahr uyf ausr

Ada yang mengerti apa arti tulisan diatas?

Coba diterka-terka..

Coba dikulik-kulk..

Ah coba disandikan..itu sandi mungkin.

Dapat? Sudah mengerti artinya?

Aaahh saya juga tidak mengerti sebenarnya. Hahaha. Sama tidak mengertinya dengan apa yang saya pikirkan saat ini. Haha. Mungkin saya gila. Mungkin. Tidak ada orang gila yang tau dirinya gila. Tapi apa orang yang mengaku waras itu betul-betul waras? Kalau memang waras buat apa menyakinkan orang kalau dia sendiri waras. Aaahhh ini pertanyaan rumit kawan, sulit menjawabnya. Hahahaha. Silahkan anda sendiri yang menetukan siapa yang gila antara kita. SAYA atau ANDA.

Sesaat lalu saya kembali ter-ngiang dengan masa magang saya dulu. Magang dari kampus sebagai salah satu tuntutan menyelesaikan studi saya. Saya dari depok tapi magang di bogor. Perjalanan yang cukup menyenangkan tapi juga makin lama makin membosankan. Perjalanan dari kota ke kota, walaupun dekat, menggunakan motor lumayan melelahkan punggung saya. Cape? Ya tentu, tapi tetap semangat J

Tempat magang ini bekerja pada waktu malam, tuntutan masyarakat katanya. Oya sebelum berpikir lebih jauh, tempat magang saya itu adalah tempat pemotongan hewan untuk konsumsi, jadi wajar malam bekerjanya karena masyarakat inginnya daging segar baru potong pada pagi hari di pasar.Karena bekerjanya malam hari, sudah tentu saya juga ikut kegiatan di malam hari bukan. Yaiyalah. Haha. Ini bagian yang menarik. Haha.

Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 8 malam,n perjalanan dimalam hari biasanya sama saja dengan perjalanan siang hari. Bukan karena jalannnya macet, tapi karena sebagian besarnya jalan menuju kesana belum dipasangi lampu, sehingga kebanyakan gelap dijalan-jalan itu. Lagipula di kegelapan jalan itu banyak yang berseliweran dijalanan, karenanya saya makin hati-hati pas dijalan J

Oke, sampai tempat magang, biasanya saya mengikuti proses pemotongan hewan itu, dari 1, 2, 3 hingga bosan melihat hewan-hewan itu merengang nyawa. Dari sesuatu yang dapat bernafas, bergerak, hidup, dalam 45 menit berubah menjadi potongan-potongan daging yang terbagi dalam 4 bagian besar dan sudah dikulit bersih, tinggal dijual. Hmmph, apa hewan-hewan itu bisa berpikir? Apa yang kira-kira mereka pikirkan ya? Hidup hanya untuk dikorbankan? Menjadi martir? Martir? Martir? Ah apa iya?

Yak stop sampai disitu soal potong memotongnya. Sekitar pukul 1 biasanya saya pulang. Ya perjalanan yang sangat dingin. Angin malam itu seperti menusuk-nusuk hingga ke tulang. Ah mungkin enak kalau didalam mobil, tapi sekarang saya di atas motor. Haha.

Kemudian saya memasuki bagian yang menarik, lumayan jauh dari tempat magang saya itu, dijalanan lurus yang lumayan gelap. Ada beberapa gerombol orang, wanita tepatnya. Ya bergerombol-gerombol di sepanjang jalan, tidak saling berdekatan, tapi dapat saling melihat satu sama lainnya. Hmmph, ditambah lagi mereka seperti tidak merasakan dinginnya malam, terbukti dari pakaiannya yang minim-minim. Sama seperti anak-anak gahul masa kini. Hahaha.

Sejurus kemudian saya melihat adegan yang menarik, wanita-wanita itu melambai pada pengendara motor maupun mobil yang lewat didepannya. Aaiihh saya langsung dapat menerka siapa mereka. Btw, saya juga tidak luput dari lambaian tangan mereka J. Tapi saya tetap lanjut jalan terus. Hehe. Maaf mengecewakan anda yang membaca J.

Sejenak saya berpikir, mereka sedang mencari uang. Mencari penghidupan. Aaaih tapi saya sama sekali tidak berani mengatakan mereka sepenuhnya salah. Mereka begitu juga karena keadaan yang memaksa. Ada perasaan iba pada mereka yang tersemat di hati saya, mereka pasti dicacimaki dan disebut-sebut bakal masuk neraka oleh orang-orang alim yang lewat dijalan itu.

Pikir saya terus mengelana lagi, aih aih, mengelana. Sebenernya apa yang membuat mereka seperti itu? Sepenuhnya salah merekakah? Aih aih persoalan ini bukan pada siapa yang salah atau benar sepertinya.

Saya teringat dengan sebuah tulisan yang mengatakan pembongkaran lokasisasi macam kramattunggak itu sebenarnya bisa dibilang langkah bodoh, sangat bodoh. Kalau saya pikir-pikir, saya setuju dengan ungkapan itu. Betapa tidak dengan dibongkarnya tempat-tempat lokalisasi macam itu, harapannya semula adalah tidak adanya lagi psk-psk atau semacamnya, tapi yang terjadi malah bermunculan lokalisasi-lokalisasi yang terselubung dan makin banyak yang ikut serta didalamnya. Apa yang dilakukan oleh seorang gubernur pada bertahun-tahun yang lalu merupakan langkah yang sangat berani, tidak seperti sekarang, pemimpin-pemimpinnya pengecut semua.

Ya saya mungkin hanya tau dari literatur saja, tapi itu sudah lebih dari cukup. Ketika ada tempat-tempat seperti itu penyebaran penyakit macam hiv/aids atau penyakit kelamin sejenisnya dapat ditekan sedemikian rupa, menghidupi banyak orang karena disana bukan cuma melulu soal kepuasan urat, tapi ada tukang siomay yang menjajakan siomaynya disana, tukang mainan yang menjajakan mainan pada anak-anak kecil yang tinggal disana, bahkan ada kursus-kursus dan pelatihan pula dari dinas sosial untuk para psk. Haah. Sudah semikian baiknya tapi malah dibubarkan.

Apa yang terjadi sekarang, disana dibangun pusat keagaaman. Disangkanya urusan tarik urat seperti itu dapat diselesaikan seperti orang berak sama pemimpin waktu itu. Setelah dikeluarkan, selesai semua. Tidak segampang itu, mbah. Selain malah bermunculan tempat-tempat prostitusi terselubung di seantero kota, penyebaran penyakit makin menjadi-jadi. Nah, anggaran yang seharusnya untuk pembangunan sudah habis untuk menyediakan obat-obatan untuk menyelesaikan penyakit yang mampir berurutan itu. Lagipula dengan tidak adanya tempat seperti itu, urusan ranjang goyang itu juga sama saja bahkan makin meningkat, aah lalu apa gunanya pusat keagamaan itu? Apa kerjanya orang-orang yang mengaku wakil Tuhan dibumi? Secara umum dapat saja kita sebut mereka – wakil Tuhan di bumi saat ini- telah gagal. Ah kita belum bicara pada aspek ekonomi, tapi rasanya tak perlu. Secara kasat mata dapat dilihat, keuntungan ekonomi yang didatangkan dari tempat itu DULU jauh lebih besar daripada SEKARANG. Dan itu berguna untuk pembangunan yang akan dinikmati semua orang.

Satu hal yang dipermasalahkan biasanya adalah moral. Akan timbul pertanyaan besar. DIMANA MORALMU SAMPAI HATI MELEGALKAN PERZINAHAN? APA MAU NEGERI INI TENGGELAM GARA-GARA MAKSIAT?

Ahahaha. Pertanyaan pamungkas dan jurus pelindung yang sempurna. Pikir saya. Apa dengan tidak adanya tempat itu perzinahan turun? Apa dengan tidak adanya tempat itu negeri ini tidak mau tenggelam?

Ah betapa hebatnya pemimpin itu pada masanya, dia terang-terangan dengan lantang bicara, itu –moral- urusan saya dengan Tuhan, saya yang bertanggungjawa. Hebat. Mana ada sekarang pemimpin seperti itu. Pemimpin sekarang ini selalu melempar kesalahan antara satu dengan yang lainnya. Haah. Menyebalkan sekali melihat kelakuan mereka seperti itu.

Ayolah coba bantu orang-orang yang kalian anggap sebagai biang kemaksiatan, biang kesialan, pusatnya maksiat untuk kembali ke jalan yang menurut kalian benar. Jangan hanya bilang ini haram itu haram. Ini boleh itu tidak boleh. Keluarkan mereka dari lembah kehinaan -menurut kalian- dengan cara yang bermartabat dan beradab. Jangan kalian hanya terus mengutuki dari jauh sambil memandang jijik. Ayolah tunjukkan nyali kalian.

Ah kalau keadaannya seperti ini, siapa yang pantas menyadang gelar GILA dan WARAS? pelacur gila? wakil tuhan waras? ah apa iya seperti itu? entahlah.

Diakhir tulisan ini, saya jadi teringat sebuah kisah tentang seorang pelacur yang dijanjikan masuk surga karena menolong anjing dengan memberikan air minumnya. Hmmmph. Sejenak saya berpikir. Kalau pelacur dapat masuk surga, apa tidak mungkin seorang yang mengaku wakil Tuhan di bumi saat ini masuk neraka?

Minggu, 10 Juli 2011

Dalam suasana perut mulas yang mereda