Bukan pengemis biasa

Tulisan ini agaknya akan membuat pengurus-pengurus rumah Tuhan berang mengutuki saya. Ya biarlah. Haha. Yang menentukan benar atau salah perbuatan manusia sejatinya hanya Tuhan.

Coba sesekali berjalanlah, kemana saja, terserah anda, sekemana langkah kakimu saja ikuti. Apa yang anda akan lihat ditengah-tengah jalan yang ramai? Mobil? Motor? Polisi? Pembatas jalan? Haha. Bukan itu yang mau kita bahas saya disini. Ya kita.saya dan anda. Anda yang membaca tulisan sederhana saya ini.

Satu hal yang sering kita temui, terutama di kota satelit jakarta ini, kota belimbing ini, kota depok, dijalan-jalan yang ramai akan banyak kita jumpai kotak-kotak amal atau orang-orang yang berdiri ditengah-tengah jalan, menjadikan dirinya sebagai pembatas jalan sambil memakai masker, topi, dan tidak lupa saringan besar untuk menangkap duit. Haha. Sudah jelas? Belum ya? Oke diperjelas lagi. Biasanya di seberang jalan akan ada speaker ukuran besar yang melantukan ceramah ustadz terkenal atau bacaan Quran yang telah direkam sebelumnya. Lalu jika diperhatikan dengan seksama akan terpampang plang sederhana bertuliskan

”MOHON DOA RESTU DAN BANTUANNYA UNTUK RENOVASI MASJID/MUSHOLLA XXX”

Sudah jelas bukan sekarang?

Ini pandangan saya atas apa yang mereka perbuat itu. Ya sebatas pandangan sederhana saja, semampu otak saya yang sederhana. J

Sering ketika melihat hal seperti itu terlintas sesuatu dalam otak saya, dalam bentuk penyataan yang lebih mirip pertanyaan.

Membangun rumah Tuhan dengan uang hasil mengemis dijalan?

Kenapa saya bisa berpikir seperti itu? Ya karena memang kenyataan yang terlihat oleh mata ya seperti itu. Apa beda kelakukan itu dengan pengemis yang meminta-minta, mengiba-iba pada orang yang berada didepannya yang sering kita lihat di stasiun, terminal, depan rumah, depan mal, atau di tempat-tempat umum lainnya? Sama saja bukan. Oh well, bukan perbedaan fisik yang saya maksud. Kalau dari fisik jelas berbeda, pengemis-pengemis diterminal,stasiun dan tempat-tempat umum kebanyakan berpakaian kumal, robek sanasini, lusuh, kadang disertai borok-borok buatan yang menambah rasa iba yang melihat. Sedangkan untuk pengemis-pengemis yang satu ini, berbeda jauh, pakaiannya bersih, terlihat rapi, dengan senyuman pula melambaikan tangan pada pengguna jalan guna ”memaksa” mereka menjatuhkan duit barang seribu-duaribu. Tambahannya lagi, dengan membawa-bawa nama Tuhannya pula. Demi memperbaiki rumah Tuhan.

Haha. Ini sengaja saya perjelas, sebab kalau tidak dijelaskan detail seperti ini, aspek ini akan dituntut oleh orang-orang pandai itu pertama kali. Haha

Berlanjut, pernah terbayang seperti inikah orang-orang itu atau kita mungkin. Memperbaiki rumah Tuhan dengan uang hasil mengemis pada pengguna jalan?

Sudah sebegitu miskinkah Tuhan hingga mengharuskan hamba-hambaNya yang setia itu menadahkan tangan, ah bukan, menadahkan saringan pada pengguna jalan? Ah sepertinya tidak. Konsep Ketuhanan yang saya pahami selama ini adalah Tuhan maha kaya, tidak memerlukan sesuatu apapun dari hambaNya, karena yang butuh Tuhan adalah hambaNya bukan Tuhan yang membutuhkan hambaNya.

Ah atau mungkin perbuatan mereka didasari atas alasan pertama di paragraf sebelum ini? Karena hambaNya lah yang membutuhkan Tuhan, maka mereka –hamba-hamba itu- melakukan ini untuk menyenangkan Tuhannya? Ah sekali lagi konsep Ketuhanan yang sedari kecil ditanamkan pada saya bergejolak, Tuhan tidak butuh materi, Tuhan tidak butuh apa-apa dari ciptaanNya. Karena Ia yang maha Kuasa.

Atau mungkin karena bangunan rumah Tuhan yang ada dilingkungan mereka sudah jelek? Ah, pikiran saya nakal bicara lagi, sudah sebegitu matikah kesadaran orang-orang disekitar lingkungan rumah Tuhan itu, hingga mereka tidak mau mendatanginya lalu memberikan sebagian rezeki mereka, hingga sebagian orang berinisiatif untuk mengemis dijalanan atas nama pembangunan rumah Tuhan?

Kalau dilihat baik-baik, rumah Tuhan yang akan perbaiki sebenernya kondisinya -kebanyakan- sudah baik. Mungkinkah ini merupakan niatan mereka untuk memperindahnya? Untuk apa? Kenyamanan penggunanyakah? Aih aih apa mereka lupa bahwa salah satu tanda kiamat besar adalah manusia berlomba-lomba memperindah rumah Tuhan?ah sekali lagi neuron-neuron dalam otak saya bertabrakan dengan hebatnya hingga saya pusing sekali.

Berbicara mengenai perlombaan –tak disadari- memperindah rumah Tuhan, saat ini banyak sekali keindahan-keindahan rumah Tuhan yang sangat sulit untuk sengaja dilupakan J . Coba saja tengok pada rumah Tuhan bertahtakan emas di kubahnya disalah satu sudut kota Depok. Sangat sangat mengagumkan. Tapi kalau ditelisik lagi, timbul pertanyaan dalam hati lagi. Sebenarnya untuk apa semua ini? Apa perlu seperti ini? Menghiasi emas? Tentunya butuh uang yang sangat banyak.

Ah seandainya saja sebelum membangun sesuatu dengan keindahan yang sebegitunya, pembuatnya melihat dulu keadaan sekitarnya. Tak taukah ia bahwa sebelumnya ada seorang pria yang gantung diri, mati, akibat hutang dan banyak orang yang kesusahan dalam finansial mereka disekitar areal pembangunan itu? Ya memang saat ini dengan adanya arsitektur semegah itu ada beberapa pihak yang meraup rejeki, tapi apakah harus dengan cara seperti ini? Seperti mengorbankan seseorang guna membangun sesuatu. Aih saya tak habis pikir dengan maksud tujuan dibangunnya bangunan itu. Kalau untuk beribadah apakah perlu semegah itu? Yang saya tau dengan pasti dengan dibangunnya bangunan itu, maka sudah terpenuhilah dengan menyakinkan salah satu pertanda bahwa kita mendekati kiamat.

Tulisan ini agaknya akan membuat pengurus-pengurus rumah Tuhan berang mengutuki saya. Ya biarlah. Haha. Yang menentukan benar atau salah perbuatan manusia sejatinya hanya Tuhan.

*Saya sama sekali tidak ingin mendiskreditkan siapapun. Ini hanya sejumput pemikiran saya. Saya tidak berani bilang apa yang saya pikirkan ini adalah benar ataupun tindakan mereka yang benar. Karena sejatinya kebenaran adalah milik Tuhan J

Sabtu, 9 Juli 2011

Sudut kecil rumah kecil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar