Atheis dalam diam

Ruang pengap, dalam gelap.

Bersahabat kelam-kelam, menunggu waktu mati

Suara itu memanggilku lagi. Semula sayup-sayup dalam remang. Seketika berubah jadi genta yang menggelegar. Menusuk-nusuk gendang telingaku. Cabik-cabik perasaan dalam dadaku. Semakin keras suaranya, semakin berjuang jiwa ini menolaknya. Hantam-hantam dinding hati ini tuk terus rasuki. Merangsek masuk menyusup darah segarku. Coba hentikan gerak langkah hindarku. Sisa tenaga yang ada aku bangkitkan. Lumat habis suara-suara itu. Mengasingkanku di pojok dingin percayaku. Berharap akan reda lalu mati. Aku injak dan buang jauh-jauh. Mustahil adalah aku coba lawan. Sumbat rapat-rapat kupingku ini. Harap suara itu gagal cari celah masuk tubuhku.

Seperti diterbangkan semilir bayu, kuatku hilang sekejap. Suara itu berhasil masuk. Telinga, darah, tulang dan otakku dijalarinya. Seperti meledak badan ini. Pecah runtuh tanpa ampun. Semakin kencang sumbatku, makin menjadi ledakku. Entah ada apa tubuhku ini. Semakin ku tolak semakin menyusup suara itu. Otak dan tubuh tak menyatu seperti air.

Nyatanya bukan tak sudi dengar. Hanya seperti bara dendam ini. Bakar pikirku untuk melawan. Melawan yang tak nampak. Melawan nasib malang hidup. Tak terima dengan garis ketetapan jalan. Sedih seperti tak lekang dariku. Pun dengan malang yang sangat. Saling canda dengan sakit dan deritaku. Laiknya teman sepermainan yang hangat. Apa yang sebabkannya, ia pun tak tau. Hidup bagai rentetan sial yang harus dilalui sendiri. Dan sepi.

Pasrah. Kata pertama dalam otak kecil tumpulku itu. Duduk. Diam. Menunggu mati. Aktivitas tak kenal waktu. Pun tempat dan sekitarnya. Rutin ia lakukan. Demi cinta yang tak terlihat. Kasih yang mestinya turun belai lembut diriku.

Hingga bosan. Bosan dalam hening. Sepi. Akibat terkurung dalam imajinasi tinggiku. Dalam penjara khayal yang ku bangun sendiri. Di peti mati ukiran tangan kasarku.

Tak lagi ada tempat untuk kasih dan cinta. Pasrah pun ku hilangkan dari pikirku. Lepas, impian dalam sepiku, aku wujudkan. Cacing yang selamat dari pemangsanya. Setara dengan luapan gembira itu. Tanggalkan semua topeng berat. Bersihkan diri dari jubah duniawi. Lebarkan tangan dan sambut dunia baru.

Hanya saja tak lama. Sedih dan malang tak sanggup berjauhan denganku. Dijumpaiku lagi dengan beribu lipatan. Sungguh, hidupku hanya berloncatan antar derita. Cobalah runut dari awal, 7 tahun awal masa anak-anakku, tak sebahagia lainya. Hanya 2 tahun aku kecap kasih sayang orang tuaku. Selebihku nol, kosong seperti lorong gua. Keduanya dicabut nyawanya, tak lama setelah sekarat di ujung jembatan. Tertimpa palang baja penyangga, sewaktu menghindari hujan lebat. Belum puas Ia mengujiku, tak lama setelah itu panas tinggi mendekapku. Sendiri dan sakit. Iya, itu yang aku rasakan. Terlalu muda, sendiri, sakit. Komposisi paling mutakhir mematikan semangat hidup seseorang. Entah kekuatan dari mana didapat. aku mampu melewatinya. seperti gatotkaca berlatih di candradimuka pikirku. Imbas keras kepalaku itu, lidah dan telingaku dicabut. Bodoh. Kenapa tidak pilih mati saja aku, pikirku sesal.


6/21/2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar